--> Kumpulan Artikel: Perkembangan Anak | Kumpulan Artikel seputar anak, kesehatan, Islam
Showing posts with label Perkembangan Anak. Show all posts
Showing posts with label Perkembangan Anak. Show all posts

Wednesday, March 25, 2015

40 Cara Super Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak

40 Cara Super Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak

Sebelumnya saya sudah membahas tentang bagaimana mengajarkan anak supaya jujur dan tidak bohong, kali ini saya akan menulis tentang bagaimana cara supaya anak kita percaya diri dan tidak minder? Membantu kepercayaan diri anak adalah salah satu hadiah terbesar orang tua untuk anak yang bisa menjadi bekal hidupnya. 40 cara dibawah ini dapat membantu meningkatkan rasa kepercayaan diri anak. Dikutip dari ParentingBookmark.com:
anak ceria percaya diri
Photo by me

40 Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak



  1. Mulailah setiap pagi atau setiap mau tidur mengatakan kepada anak kita, betapa kita mencintainya. 
  2. Ketika anak kita pulang, apa yang paling menyenangkan hari ini?
  3. Tandai hari di kalender untuk waktu khusus bersama anak. Dan minta anak kita untuk memilih hal apa yang ia ingin lakukan bersama kita.
  4. Membuat moto untuk keluarga, misalnya "Jangan katakan tidak, selalu katakan ya, untuk mendorong dia berpikir positif. 
  5. Merekam sendiri bacaan favorit anak kita sehingga ia dapat mendengarkannya kapan saja. 
  6. Ajarkan anak kita untuk mengatakan kepada dirinya sendiri "Saya bisa, Saya pasti bisa" untuk membantunya setiap permasalahannya. 
  7. Buatkan kalender khusus untuk anak dan hiasi dengan foto keluarga.
  8. Buatlah jurnal bersama yang mencatat keberhasilan dan keterampilan khusus anak. 
  9. Katakan kepada anak mengapa kita menyukai dia. 
  10. Tanyakan apa makanan kesukaannya, dan buatkan untuknya. 
  11. Meletakkan catatan dibawah bantal anak dan tuliskan betapa kita mencintainya. 
  12. Bingkai foto anak kita dan letakkan ditempat yang terlihat. Katakan padanya bahwa fotonya itu untuk mengingatkan kita betapa bangganya menjadikan dia sebagai bagian dari keluarga kita. 
  13. Beli lilin khusus, nyalakan dan pegang bersama-sama sebagai tradisi untuk malam kita, diselingi dengan saling bercerita dan membaca. 
  14. Pasang majalah dinding untuk anak kita guna menampilkan karya terbaiknya. 
  15. Rencanakan menonton bersama film favorit keluarga. 
  16. Ingatkan anak kita mengapa kita berpikir bahwa dia sangat spesial dan hebat. 
  17. Menulis surat setiap tahunnya, tentang mengapa kita senang memiliki anak seperti dia dan membacanya bersama-sama kemudian menyimpannya sebagai hadiah ketulusan. 
  18. Berikan anak buku alamat yang kecil yang memuat orang-orang yang paling penting. Untuk anak yang belum bisa membaca tempelkan foto orang yang mereka cintai. 
  19. Sisihkan waktu bersenang-senang bagi keluarga, setidaknya seminggu sekali dalam kalender keluarga untuk bermain game dan bergembira bersama. 
  20. Mengunjungi perpustakaan dan membaca buku bersama tentang anak dan cinta keluarga. 
  21. Rayakan setiap perkembangan atau usaha khusus anak-anak kita lakukan dalam satu minggu. 
  22. Buat album foto pribadi yang memuat foto dari kecil sampai dia beranjak besar. 
  23. Membuat makanan khusus untuk anak.
  24. Peluk anak kita dan bisikkan supaya dia berbuat baik, menjadi anak shaleh dll, dan katakan mengapa dia harus melakukan hal itu. 
  25. Katakan kepada anak apa hal yang kita hargai darinya. Kejujuran, kepatuhan, atau keceriaannya. 
  26. Membuat rekaman tentang kenangan berharga keluarga. 
  27. Katakan kepada anak mengapa bahwa dia adalah orang yang baik dan bermanfaat. 
  28. Membuat foto kolase dengan menggunakan guntingan, foto dan kata-kata mutiara yang baik. 
  29. Ingatkan anak kita betapa kita menghargai dia dan mengapa kita menghargainya. 
  30. Tetapkan waktu untuk pelukan khusus kepada anak kita di sofa. 
  31. Memeluk dan menciumnya tanpa alasan lain selain kita mencintainya. 
  32. Buatlah daftar bersama setidaknya 10 hal yang membuatnya dicintai. 
  33. Panggilah anak dengan nama nama yang dapat meningkatkan perasaan kecukupan. 
  34. Bangingkan anak kita hanya kepada dirinya sendiri dan upayanya sendiri - jangan pernah bandingkan kepada orang lain. 
  35. Tanyakan pada diri kita "apakah yang kita inginkan pada anak adalah sesuatu yang memang diinginkan anak atau lebih kepada sesuatu yang saya inginkan untuk diri sendiri?"
  36. Setiap minggu rekam kemajuan akademiknya, sehingga ia bisa mendengar tentang kemampuannya: puisi, membaca, berhitung dan bercerita. 
  37. Buatkan kotak khusus untuk anak kita guna menyimpan pekerjaan sekolah yang paling ia banggakan. 
  38. Kumpulkan keberhasilan yang dilakukan anak kita, besar maupun kecil, pada kertas 1x5 dan rangkaikan dalam satu rangkaian kertas panjang dan gantung di kamarnya. 
  39. Saat menceritakan hal-hal positif keraskan suara kita sehingga anak kita bisa mendengarnya dan dapat merekam dan mencontoh dengan mengatakan hal yang sama tentang dirinya. 
  40. Ingat, kita harus yakin akan kemampuan anak kita, supaya dia juga yakin pada dirinya sendiri. 

Tuesday, March 10, 2015

Cara Mengajarkan Anak Supaya Jujur dan Tidak Berbohong

Cara Mengajarkan Anak Supaya Jujur dan Tidak Berbohong


Mengapa anak kita suka berbohong dan bagaimana supaya anak kita jujur?

Melihat anak kita suka berbohong tentu sangat menjengkelkan. Lebih menjengkelkan lagi ketika disuruh untuk jujur anak kita semakin bertahan menutupi kebohongannya. Tak jarang orang tua tidak sabar dengan memarahi dan menghukum anak. Tetapi  tunggu dulu, sebelum kita memarahi anak kita harus mengetahui mengapa anak berbohong, jika kita sudah mengerti kita bisa mengajarkan bagaimana anak dapat berkata jujur.

Banyak faktor yang menyebabkan anak berbohong, diantaranya adalah lingkungan. Anak meniru lingkungan yang suka berbohong, baik dari teman-temannya maupun dari orang tuanya sendiri. Tak sadar kita sering kali berbohong kecil kepada anak, dengan menjanjikan sesuatu kepada anak dan tidak kita tepati, atau menakuti-nakuti sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Hal secara tidak langsung kita telah mengajari anak kita berbohong.

Anak Jujur

Kedua mengapa anak tidak mau jujur adalah karena takut hukuman dari orang tua atau takut mengecewakan kita.  Ketika anak berbuat salah umumnya konsekuensi yang akan mereka dapatkan dari orang tua mereka adalah hukuman dan omelan dari orang tua. Dan ketika ia disuruh untuk jujur untuk mengakui kesalahannya ia memilih untuk berbohong, karena dengan begitu ia terbebas dari omelan dan hukuman. Anak menyimpulkan bahwa jujur itu tidak enak.

Jadi  bila kita sebagi orang tua ingin anak kita jujur maka orang tua harus bersedia mendengarkan kebenaran yang manis maupun yang pahit, yang baik maupun yang buruk yang diungkapkan oleh anak. Jangan membuat anak takut mengatakan mengungkapkan isi hatinya. Sebaliknya ketika anak jujur akan kesalahannya, orang tua bukan menyambut dengan marah, tetapi menanggapi dengan sabar, mengapresiasi kejujurannya dan menjelaskan kesalahannya, dan jangan mengulangi lagi. Kebenaran atau kesalahan itu adalah proses dari anak. Dan tugas kitalah mengarahkan mana yang baik dan buruk baginya.

Berikut Tips Supaya  Anak Berkata Jujur dan Tak berbohong

  1. Berikan Contoh. Jujur bukan sekedar kata-kata tetapi tindakan. Kita tidak bisa mengharapkan anak jujur ketika kita mempertontonkan kebohongan di hadapan mereka. 
  2. Ajarkan dia tentang kejujuran. Mengapa harus jujur dan jelaskan bahwa keluarganya sangat menjunjung tinggi kejujuran. 
  3. Beri Sanjungan. Saat anak memperbaiki kesalahannya dan mulai berkata jujur maka pujilah kejujurannya. Kita sering terlalu cepat marah tapi lambat memuji. Pujilah ia dengan pelukan ini akan membangun rasa percaya diri anak.
  4. Hindari Memberi Label Pembohong pada Anak. Jangan panggil anak kita sebagai tukang bohong karena hal itu akan membuatnya defensif dan lama kelamaan ia akan percaya dan menjalani hidup yang di labelkan kepadanya. Sebaliknya biarkan ia tahu bahwa kita tidak suka kebohongan tetapi kita masih mencintainya. Katakanlah dengan lembut tetapi tegas.
  5. Jangan Ajuka Pertanyaan yang Anak Sudah tahu Jawabannya. Tetapi katakan bahwa ia tidak akan dimarahi jika berbohong. Pertanyaan yang memojokkan akan semakin bertahan dalam kebohongannya. Kita harus memberi dia ruang untuk menutupi kesalahannya. Anak tidak mau diinterogasi, apalagi kalau anak menduga bahwa sebenarnya orang tua sudah tau jawabannya. Sudah tau nanya. Anak membenci pertanyaan yang hanya merupakan suatu jebakan. Ia tidak suka pertanyaan yang menghadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menyakitkan; bohong dengan konsekuensi tidak enak, atau jujur tetapi berakibat malu.
  6. Pilihkan Anak Lingkungan yang Jujur. Pilihkan anak kita dengan teman-temannya yang jujur. 
  7. Ceritakan tentang dongeng orang yang jujur dan akibat orang yang suka bohong. 
  8. Biarkan mereka tahu bahwa kita lebih menekankan jujur daripada hukuman atas perilaku tidak jujur mereka. kita dapat saja memberikan konsekuensi kebohongan mereka tetapi mereka perlu tahu ada manfaat bagi mereka untuk jujur.  



Monday, March 9, 2015

20 Karakter Dasar dalam Kecerdasan Emosional Anak

20 Karakter Dasar dalam Kecerdasan Emosional Anak

Dalam mendidik anak, mana yang lebih penting, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual?

Sebagai seorang Muslim saya mengutamakan kecerdasan spiritual melalui pendidikan agama, maka setelah itu akan tercakup di dalamnya kecerdasan emosional dan intelektualnya. Walaupun dalam praktek penerapannya urutannya bisa berubah-ubah. Tentu kata 'mengutamakan' bukan berarti mengabaikan yang lainnya. Karena pada dasarnya semua kecerdasan tersebut saling terkait dan saling mengisi.

Menurut saya membuat skala prioritas itu penting karena akan berpengaruh pada sudut pandang kita dalam mendidik dan proses penerapannya. Istri saya kalau ditanya mana yang lebih penting, dia akan menjawab kecerdasan spiritual dan emosional, tetapi dalam prakteknya ia sering mengeluh dan sangat khawatir kalau anak kami belum mahir baca, tulis dan berhitung, apalagi melihat teman-teman sebayanya yang sudah mahir dalam hal calistung tersebut.  Wajar sih istri saya bilang seperti itu, karena memang dia yang sehari-hari banyak terlibat dalam kegiatan belajarnya. Disamping memang itu tuntutan dalam sistem pendidikan kita yang lebih fokus kepada prestasi akademis, sehingga menjadi anggapan awam seakan-akan kecerdasan itu hanya dinilai dari kecerdasan dalam berlogika dan matematika.

kecerdasan anak
Saya hanya menekankan kepada istri saya, bahwa anak-anak itu istimewa, mempunyai kecenderungan dan sifatnya sendiri dan tidak bisa dibandingkan. Disamping itu saya membiarkan anak bebas bereksplorasi dan menemukan zona nyamannya dalam belajar, bukan dengan menekan dia supaya harus lebih pintar seperti keinginan orang tua. Karena kalau dia sudah nyaman, insyallah anak akan dengan sendirinya belajar dan orang tua juga bisa melihat kecenderungan bakat dan kecerdasan yang ia miliki.

Yang seringkali orang tua lupa adalah, lebih merasa khawatir ketika nilai akademisnya anaknya jelek dibanding dengan ketika anaknya suka berbohong, saling mengejek, suka berantem dll. Anak-anak tetangga yang suka les dirumah, mereka diajarkan baca, tulis dan berhitung, dan bacaan-bacaan shalat. Tetapi setelah selesai bermain mereka saling ejek, saling bully, dan bahkan memukul.
Makanya sekarang saya bilang ke istri kasih perhatikan khusus pelajaran untuk membentuk kecerdasan emosionalnya. Seperti jujur, rukun, berbagi, menghormati teman dll.

Pendidikan karakter sifatnya luas, tidak hanya tugas guru tetapi juga orang tua, dimulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.

20 Karakter Dasar Anak

Berikut 20 Karakter dasar yang setidaknya harus diajarkan kepada anak-anak kita.

  1. Empati
  2. Peduli
  3. Suka menolong
  4. Hormat
  5. Setia 
  6. Sopan
  7. Bijak 
  8. Percaya diri
  9. Berani 
  10. Semangat 
  11. Inspiratif
  12. Humoris 
  13. Tanggung jawab
  14. Adil 
  15. Sabar
  16. Jujur 
  17. Disiplin
  18. Kerjasama 
  19. Mandiri 
  20. Toleran 

Pembahasan setiap karakter insyallah akan dibahas dalam tulisan-tulisan mendatang.

Tuesday, February 12, 2013

Tips Membuat anak Penurut agar Mendengar Perintah Orang Tua

Tips Membuat anak Penurut agar Mendengar Perintah Orang Tua


mendidik anak penurut
Berikut ini adalah tips membuat anak penurut agar mendengar perintah orang tua.

Mendidik anak di samping dengan contoh juga dengan kata-kata, bisa dengan perintah, nasehat, arahan dll. namun sayangnya niat kita tidak selalu disambut oleh sang anak yang lebih memilih dengan kesenangan mereka sendiri. Kadang kita sering kesal sendiri karena anak tidak mau mendengarkan kita, yang ujung-ujungnya kita menjadi emosi dan memarahi sang anak. Tetapi dengan tips di bawah ini mungkin bisa membuat pekerjaan mendidik anak kita lebih efektif, dengan cara-cara yang sederhana, tentu kuncinya adalah sabar.

Saya kutip dari situs Ask Dr Sears berikut adalah tips supaya anak bisa mendengarkan orang tuanya:

1. Jalinlah Kontak Langsung dengan anak


Sebelum kita menasehati anak lakukanlah dengan terlebih dahulu menjalin kontak dengan anak, jongkoklah sehingga terjadi kontak mata sejajar agar kita mendapatkan perhatiannya. Ajari anak bagaimana harus fokus: "Sini, liat mata mama'  atau "Coba mana telinganya." Lakukan hal yang sama ketika kita mendengarkan mereka. Tetapi jangan melakukan kontak mata terlalu tajam yang bisa dipersepsikan oleh anak sebagai suatu langkah mengendalikan bukan menghubungkan.

2. Panggillah Anak dengan nama mereka

Sebutlah nama anak kita ketika kita meminta sesuatu kepada anak, "Budi, tolongin mama sebentar.."

3. Gunakanlah perintah yang singkat kepada anak.

Gunakanlah perintah yang singkat dengan meletakkan inti perintah kita di kalimat pembuka. Semakin kita melantur (ngomel) anak akan semakin tidak mendengarkan. Terlalu banyak bicara adalah kesalahan yang sangat umum ketika kita membicarakan suatu masalah. Hal ini akan memberi kesan pada anak bahwa kita tidak yakin dari apa yang ingin kita katakan. Dan kita pun semakin melantur.

4. Sederhana

Gunakan kalimat-kalimat pendek dengan satu suku kata. Perhatikan bagaimana anak kita berkomunikasi dengan satu sama lain, Bila anak Anda terlihat tidak tertarik, kita tidak lagi dimengerti dan didengar oleh anak.

5. Mintalah anak untuk mengulangi perintah kita

Jika anak tidak bisa, periksa mungkin perintah kita terlalu panjang atau rumit

6. Lakukanlah Penawaran yang anak tidak bisa menolak

Misalnya kita bisa memberikan perintah: ‘Ayo buruan pake bajunya, nanti abis ini kita main keluar'. Jadi kita memberikan perintah yang beralasan, yang menguntungkan dan yang memang mereka inginkan. Daripada kita sekedar memerintahkan untuk pakai baju maka dia akan cenderung untuk menolak.

7. Gunakan kalimat positif

Hidarilah kata 'JANGAN'. Misalnya "Eh jangan lari-larian!". Cobalah dengan kata dengan: ‘Kalau di dalam rumah kita jalan, tapi kalau di luar rumah boleh lari.'

8. Gunakan kalimat perintah dengan “Saya ingin”.

Misalnya untuk mengatakan ‘Turun!’, gantilah dengan kalimat: ‘Mama pengen kamu turun’. Atau, ‘Sekarang giliran Nina!, cobalah dengan kalimat: ‘Sekarang mama pengen adek gantian ya dengan Nisa". Cara seperti ini cocok untuk anak-anak yang ingin menyenangkan orang tapi tidak suka diperintah. Dengan mengatakan, ‘Mama pengen,’ kita memberi pengertian kepatuhan bukan hanya diperintah.

9. "Jika..Lalu."

Abis Dede' gosok gigi, tar mama bacain cerita ya".
‘Kalo PR nya udah selesai, abis itu boleh nonton. Kata ‘setelah’ menyatakan bahwa kita mengharapkan ‘kepatuhan’, lebih efektik dibandingkan kata ‘jika/kalau' yang menunjukkan adanya pilihan dalam diri anak padahal kita tidak memberikan pilihan.

10. Jangan langsung Perintah (kaki dulu baru mulut)

Jangan langsung perintah tetapi hampirilah dahulu anak kita sebelum kita menggunakan mulut untuk memerintah. Misalnya untuk perintah "Matiin TV nya, waktunya shalat".  Hampirilah terlebih dahulu anak kita di ruang tv nya, ikut nonton sebentar beberapa menit, setelah jeda iklan, suruh anak untuk mematikan tv. Menghampiri anak menandakan kita serius tentang permintaan kita, dibandingkan hanya dengan memerintah dari jauh.

11. Berikan Pilihan

"Mau Mandi dulu apa sikat gigi dulu?' 'Pakai baju biru apa merah?"

12. Berbicara sesuai perkembangan anak

Semakin muda anak kita, maka arahan kita harus semakin pendek dan sederhana. Pertimbangkan tingkat pemahaman anak kita. Misalnya suatu kesalahan yang terjadi adalah ketika kita bertanya kepada anak umur tiga tahun dengan menanyakan "Kenapa kamu lakukan itu? suatu pertanyaan yang orang dewasa pun belum tentu bisa memberikan jawaban. Cobalah dengan bertanya, "Coba mama mau denger dede ngapain tadi?

13. Berbicara dengan sopan

Anak 2 tahun pun bisa diajari "minta tolong". Ajarkanlah anak untuk bersikap sopan. Jangan sampai anak menganggap bahwa sopan santun itu sebuah opsional. Berbicaralah kepada anak dengan cara yang sama sebagaimana yang juga kita harapkan dari mereka.

13. Berbicara dengan memperhatikan psikologi yang benar

Bentuk-bentuk ancaman dan menghakimi cenderung akan menempatkan anak pada posisi defensif. Kata "Kau" akan membuat anak bungkam. Sebaliknya kata "Aku" mengandung hal yang tidak menuduh. Sebaiknya daripada menggunakan "Kamu sebaiknya kerjain ini... atau " Kamu harus.. lebih baik katakanlah "Saya ingin..." atau "Saya seneng kalau kamu..". Atau daripada mengucapkan "Kamu harus membersihkan meja" tetapi katakanlah "Saya ingin kamu membersihkan meja". Jangan pula menawarkan pertanyaan ketika jawaban negatif bukan pilihan, "Maukah kamu mengambilkan baju?. Katakan saja. "tolong angkat mainannya".

15. Berbicara dengan Tulisan

Mengingatkan anak bisa dianggap sebagai omelan bagi anak-anak. Khususnya bagi anak-anak remaja yang bisa menganggap mereka seakan-seakan seperti 'budak' yang terus diperintah-perintah. Cobalah mengingatkan dengan cara lain yaitu berbicara tanpa bersuara misalnya dengan tulisan di secarik kertas, tinggalkan pesan yang sedikit lucu pada anak, kemudian kita kembali pada aktifitas kita.

16. Bicara dengan pelan

Ketika anak marah, semakin mereka berteriak maka maka kita harus semakin kalem. Biarkan anak berteriak dan tanggapi dengan 'ya mama mengerti" atau "mana yang bisa dibantu?". Kadang-kadang hanya dengan menjadi pendengar yang baik hal itu bisa meredakan keributan. Jika kita menanggapi dengan cara yang sama, maka kita akan mengahadapi dua amukan. Jadilah orang dewasa untuk mereka.

17. Tetap menjadi pendengar

Sebelum memberi arahan pada anak, seimbangkanlah dulu emosi kita. Jika tidak maka kita akan membuang-buang waktu energi kita. Kita tidak akan didengar oleh anak ketika anak dalam emosi yang tidak baik.

18 Ulangi terus arahan kita

Anak perlu diberitahu seribu kali. Anak di bawah dua tahun kesulitan untuk menangkap arahan kita. Kebanyakan anak tiga tahun mulai bisa menyerap arahan kita sehingga apa yang kita perintahkan mulai bisa diserap. Tetapi ketika anak sudah menginjak lebih dewasa kurangilah intensitas perintah dan berulang-ulang, hal itu akan dianggap sebagai omelan.

19 Biarkan anak berpikir sendiri

Daripada mengatakan "Jangan sampai mainanmu ini sampai menumpuk", cobalah katakan, "Adek, coba inget-inget dimana adek menyimpan mobil-mobilannya. Membiarkan anak berpikir sendiri akan menciptakan pelajaran yang lebih baik.

20. Gunakan perintah dalam bentuk sajak

Misalnya: Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi dst... dll.

21. Berikan Pilihan yang disukai

"Adek jangan main ke jalan, mainnya ke ayunan aja ya"

22. Berikan kalimat khusus

"Adek mau tidur dulu, bilang ‘bye-bye’ ke mainanmu, ‘bye-bye’ ke teman-temanmu.’

23. Gunakan pertanyaan yang menarik untuk anak yang bungkam

Pilihlah kalimat yang tepat untuk anak yang pikiran dan mulutnya sedang tertutup. Pilih hal yang membuat anak kita antusias, ajukan pertanyaan yang jawabannya tidak sekedar ya, buatlah yang lebih spesifik. Misalnya: "Seneng ga tadi di sekolah? cobalah dengan menanyakan "Apa aja tadi yang menyenangkan di sekolah?

24. Gunakan rumus “Ketika… saya merasa... karena"

Contoh, ‘Aduh Adek tau ga, pas adek tadi lari ke luar, Mama takut banget, khawatir karena tadi banyak banget mobil.

25. Perlu ketegasan perintah

Jika benar-benar ada hal yang tidak bisa didiskusikan lagi, katakan dengan tegas pada anak. Mama ga akan mengulangi lagi perintahnya, maaf/ kita akan menghemat energi dan emsi kita. begitu juga dengan anak kita.


Tuesday, April 24, 2012

no image

Stres pada Anak, Bagaimana Cara Mengajari mereka menghadapinya?

Pernahkah kita membayangkan anak kita stress? dan apa tindakan kita untuk menanganinya?

Biasanya mungkin kita menganggap dunia anak adalah dunia yang menyenangkan, masa yang indah, padahal seperti halnya orang dewasa anak juga bisa mengalami stres. Untuk itu kita perlu mempersiapkan anak-anak dengan membangun ketahanan mereka agar dapat menghadapi tantangan secara efektif. Sumber-sumber stress anak bisa berasal dari sekolah mereka, teman sebaya mereka, masa depan, identitas dan penampilan mereka.

Stress membuat kita sangat tidak nyaman, kita merasa gugup, kita tidak bisa berpikir jernih. Kita menjadi gelisah, tidak bisa tidur, lelah dan mungkin mengalami sakit kepala. Kita tumbuh menjadi seorang yang mudah marah, kurang bersabar dan kurang memahami orang lain.

Kita semua membenci ketidaknyamanan. untuk menghindarinya kita mencari cara untuk mengatasi situasi tersebut yang bisa membuat diri kita bisa nyaman kembali.

Kita mempunyai kedua cara, baik yang positif dan negatif. Ini tidak berarti bahwa cara positif selalu berjalan baik dan cara negatif akan selalu gagal. Sebaliknya beberapa hal negatif bisa mengatasi masalah dengan segera. Perbedaannya adalah strategi positif akan meningkatkan kesejahteraan dan akhirnya setidaknya akan mendapatkan bantuan parsial. Strategi negatif mungkin akan menjadi cara yang besar dan menghasilkan bantuan yang cepat, tetapi  hal itu justru akan mengabadikan dan mengintensifkan siklus stress.

Hampir semua perilaku yang kita takutkan pada anak-anak atau remaja merupakan upaya salah arah mereka dalam mengurangi stres. Penundaan, kemalasan dan kebosanan adalah metode mengatasi stres mereka di sekolah. Mereka untuk sementara waktu bisa menghilangkan stres dari pandangan dan pikiran mereka. Tindakan bullying, merokok, narkoba, geng, seks, makan yang tidak teratur, melukai diri sendiri juga merupakan uapaya-upaya untuk mengatasi stres mereka.

Orang tua tentunya memiliki peran paling besar dalam membantu anak kita menghindari hal negatif dan perilaku berbahaya dengan melengkapi mereka dengan berbagai strategi penangangan alternatif, efektif dan aman.

Tantangan kita adalah bagaimana membesarkan anak dengan strategi yang efektif yang berhubungan langsung dengan masalah, strategi yang sehat yang membantu kita bagaimana menghadapi dan merasa nyaman terhadap emosi kita, dan aman. strategi yang bijaksana yang membantu kita dalam menghindari masalah.

Ini berarti anak-anak perlu belajar bagaimana untuk:
  • Mengidentifiksi dan kemudian mengatasi masalah dengan memecahnya menjadi bagian-bagian yang termanage.
  • Menghindari situasi stres dengan memilih untuk tidak menghadapi orang-orang, tempat dan hal hal yang memicu respon menyakitkan. Biarkan beberapa hal pergi daripada membuang-buang energi pada hal-hal yang tidak dapat diubah.
  • Membangun kekuatan, tubuh yang tangguh dengan memasukkan strategi kesehatan dengan berolahraga, relaksasi, tidur, gizi.
  • Tahu bagaimana menghindari emosi dengan sekali-kali mengambil liburan seperti malakoni hobi, membaca buku atau berjalan-jalan.
  • Meredakan emosi melalui cara-cara sehat seperti bekerja, berdoa, menulis bermain dan ekspresi kreatif.

Tetapi kesalahan fatal justru ditunjukkan oleh para orang tua sendiri dalam mementuk ketahanan emosi anak kita. Anak-anak sering mengambil pesan ambivalen, mereka tahu perbedaan antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan. Anak merekam kemunafikan kita, titik ini tiada ampun, dan mereka menggunakannya untuk menjelaskan mengapa kita seharusnya tidak memiliki kewenangan untuk menerapkan aturan perilaku mereka. Kita tidak dapat memecahkan masalah jika kita tidur siang untuk untuk menghindari ketidaknyamanan kita setiap kali kita mendapatkan stres. Kita tidak bisa mengatakan pada anak-anak bahwa sebaiknya mereka membicarakan perasaan mereka jika kita sendiri memendam emosi kita sendiri. Kita tidak bisa mengajarkan bahaya obat-obatan sambil minum alkohol. Kita tidak bisa berbicara tentang pentingnya menyeimbangkan hidup kita jika kita tidak mengambil libur sehari saja dalam sebulan.

Jadi demi anak-anak kita, maka kita, mau tidak mau, harus mendidik diri kita sendiri terlebih dahulu: Ketika kita memperhatikan diri sendiri, kita menunjukkan bagaimana membentuk emosional sehat. Kita adalah contoh bagi mereka dan akan mengikuti kita ketika mereka belajar untuk mengelola stres.

Peran pemodelan yang mungkin paling efektif adalah bicaralah dengan keras tentang apa yang kita hadapi sehingga anak dapat belajar dan mencontoh cara menangani emosi, seperti kalimat-kalimat dibawah ini.

"Ini adalah tugas raksasa untuk menyelesaikannya hanya dalam satu minggu. Saya akan memecahnya menjadi bagian yang lebih kecil sehingga saya dapat menanganinya."
"Saya sangat menekankan bahwa saya tidak bisa berpikir. Aku mau berlari. Yag selalu membuat saya merasa lebih baik."
"Saya benar-benar perlu menjernihkan pikiran saya. Saya akan membuat beberapa hal jadi lebih lambat, tarik nafas dalam dan membayangkan aku  sedang di pantai yang indah yang kami kunjungi musim panas lalu."
"Saya benar-benar membutuhkan beberapa menit untuk diri saya setelah seharian bekerja. Saya akan berendam di bak mandi selama setengah jam."
"Saya sangat marah karena saya tidak bisa berpikir jernih. Jika saya membuat keputusan sekarang tentang baaimana menghadapi perilaku saya, kalian tidak akan menyukainya. Saat ini saya perlu waktu untuk diri saya sendiri menenangkan diri. Saya akan berjalan-jalan santai. Kemudian kita akan menangani masalah ini."
"Ketika saya melukis, ia memberitahuku sebuah cerita bagaimana saya merasa. Dengan begitu saya tidak harus menyimpan semua perasaan saya dalam hati."
"Saya memiliki waktu yang sulit hari ini. Kemari berilah saya pelukan. Saya selalu merasa lebih baik saat dengan orang yang saya cintai."
"Saya perlu mencari tahu bagaimana menangai situasi ini dengan tetangga. Hanya berbicara membuat saya lebih tenang dan kadang-kadang ia membantu saya menemukan cara yang sama sekali berbeda dalam memandang sesuatu."
"Saya bahkan tidak akan dekat dengan kasino itu. Hanya berada dekat hal itu hanya akan membuat saya ingin menghabiskan uang. Jika saya tidak disana, saya tidak akan melewatkannya sedikitpun.
Dan bayak lagi hal-hal yang kita dapat contohkan pada anak-anak kita dalam hal menangani emosi.

Sumber: Psychologytoday.com



Wednesday, April 4, 2012

Kata-Kata Mutiara Bijak Tentang Anak-anak

Kata-Kata Mutiara Bijak Tentang Anak-anak


Berikut adalah kutipan-kutipan Bijak atau Kata-Kata Mutiara tentang anak-anak.


anak anak masa depan
Ketika bayi melihat Anda dan tertawa, mungkin mereka melihat malaikat. Eileen Elias Freeman
Anak-anak adalah anugerah Tuhan, diutus hari demi hari untuk berkhotbah tentang cinta, harapan dan perdamaian. -  James Russell lowell
Anak-anak adalah kekayaan orang miskin. (peribahasa inggris)
Anak-anak adalah tangan yang dengannya kita memegang surga – Henry Ward Beecher
Jika anda ingin anak anda berkembang, biarkan mereka mendengar hal baik yang anda katakan tentang mereka kepada orang lain – Dr Haim Ginott
Anak bukan tamu biasa di rumah kita. Mereka telah dipinjamkan untuk sementara waktu kepada kita dengan tujuan mencintai mereka dan menanamkan nilai-nilai dasar untuk kehidupan masa depan yang akan mereka bangun – Dr. James C Dobson
Anak-anak senang menyendiri karena dalam kesendirian itu mereka tahu diri mereka sendiri dan dimana mereka bermimpi – Roger Rosenblatt
Anak-anak membutuhkan cinta, terutama ketika mereka tidak layak mendapatkannya. – Harold Hulbert
Apa yang dimaksud dengan rumah tanpa anak? Sunyi. - Henny Youngman.
Anak-anak benar-benar menerangi rumah tangga- mereka tidak pernah mematikan lampu - Ralph Bus
Jika anda membawa anak anda bersama, Anda tidak pernah menjadi tua – Abraham Sutzkever
Pekerjaan yang paling sulit dalam pandangan anak hari ini adalah belajar perilaku yang baik tanpa melihat contoh apapun. Fred Astaire.
Meskipun kita mencoba mengajarkan anak-anak kita semua tentang kehidupan, Anak-anak kita telah mengajarkan kita semua tentang kehidupan - Angela Schwindt.

 Perkembangan anak

Anak-anak seperti semen basah. Apapun yang jatuh padanya akan membuat kesan (membekas) - Dr. Haim Ginott
Anak-anak mulai dengan mencintai orang tua mereka; saat mereka tumbuh dewasa mereka mulai menghakimi mereka, sekali-kali, mereka memaafkan mereka - Oscar Wilde
Anak-anak adalah pesan hidup yang kita kirimkan untuk waktu yang kita tidak akan melihat - John W. Whitehead
Menjadi apapun anak kita nanti, mereka tetaplah anak kita, dan yang paling penting dari semua hal yang dapat kita berikan kepada mereka adalah cinta tanpa syarat. Bukan cinta yang yang bergantung pada sesuatu. - Rosaleen Dickson
Anak-anak tidak akan mengingat anda pada hal-hal materi yang anda berikan tetapi pada perasaan menghargai mereka - Richard L. Evans
Jika anda ingin anak anda tetap menjajagi kaki mereka di tanah, berikan tanggu jawab di pundak mereka. - Aigail Van Buren
Anak-anak harus didiik tetapi mereka juga harus dibiarkan untuk mendidik diri mereka sendiri - Ernest Dimnet
Anak-anak tidak pandai mendengarkan orang tua mereka, tetapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru mereka - James Baldwin
Kau tahu anak-anak tumbuh dewasa ketika mereka mulai mengajukan pertanyaan yang memiliki jawaban - John J Plomp
Setiap hari kita membuat deposito di bank memori anak-anak kita. - Charles R. Swindoll
Tes akhir untuk suatu masyarakat moral adalah jenis dunia yang meninggalkan untuk anak-anaknya - Ditrick Bonhoeffer
Mendidik anak anda dalam hal pengendalian diri, kebiasaan menahan nafsu dan prasangka serta menjauhkan kecenderungan-keenderungan jahat, maka anda telah berbuat banyak untuk menghapuskan pernderitaan kehidupan masa depan mereka dan kejahatan di masyarakat - Daniel Webster 
Kadang-kadang wanita termiskin meninggalkan pada anaknya warisan tekaya. Ruth E. Renkel
Anak-anak adalah peniru alami yang bertindak seperti orang tua mereka, meskipun segala upaya dilakukan untuk mengajari mereka sikap yang baik - unknown
Kematian tidak akan menjadi akhir jika kita dapat hidup pada diri anak-anak kita dan generasi muda. Untuk mereka adalah kita, tubuh kita hanyalah daun yang layu pada pohon kehidupan - Albert Einstein